.:. SELAMAT DATANG .:.

Senin, 09 April 2012

Senjata Tradisional Suku Dayak Kalimantan

1. Sipet / Sumpit   
    Pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru.

      Penyebab yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut DAMEK.




"Makanya, tak heran penjajah Belanda bilang, menghadapi prajurit Dayak itu seperti melawan Hantu", tutur Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, Chendana Putra, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Tanpa tahu keberadaan lawannya, tiba-tiba saja satu per satu serdadu Belanda terkapar, membuat sisa rekannya yang masih hidup lari terbirit-birit. Kalaupun sempat membalas dengan tembakan, dampak timah panas ternyata jauh tak seimbang dengan dahsyatnya anak sumpit beracun.
Tak sampai lima menit setelah tertancap anak sumpit pada bagian tubuh mana pun, para serdadu Belanda yang awalnya kejang-kajang akan tewas. Bahkan, bisa jadi dalam hitungan detik mereka sudah tak bernyawa. Sementara, jika prajurit Dayak tertembak dan bukan pada bagian yang penting, peluru tinggal dikeluarkan. Setelah dirawat beberapa minggu, mereka pun siap berperang kembali.

Penguasaan medan yang dimiliki prajurit Dayak sebagai warga setempat tentu amat mendukung pergerakan mereka di hutan rimba.

"Karena itu, pengaruh penjajahan Belanda di Kalimantan umumnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar tapi tak menyentuh hingga pedalaman".

Tak hanya di medan pertempuran, sumpit tak kalah ampuhnya ketika digunakan untuk berburu. Hewan-hewan besar akan ambruk dalam waktu singkat. Rusa, biawak, atau babi hutan tak akan bisa lari jauh. "Apalagi, tupai, ayam hutan, atau monyet, lebih cepat lagi," katanya.

Baik hewan maupun manusia, setelah tertancap anak sumpit hanya bisa berlari sambil terkencing-kencing.

"Bukan sekadar istilah, dampak itu memang nyata secara harfiah. Orang atau binatang yang kena anak sumpit, biasanya kejang-kejang sambil mengeluarkan kotoran atau air seni sebelum tewas".


2. Mandau
    Mandau hanya dijadikan sebagai salah satu senjata perang melawan musuh.  Bagi suku Dayak, Mandau tak hanya sekedar sebilah senjata tajam. Mandau juga dipercaya memiliki kesakralan. Suku Dayak percaya, Mandau dapat memberikan kehormatan pada si pemiliknya.
Ada dua macam Mandau dimiliki suku Dayak yaitu, Mandau khusus untuk perang ataupun ritual khusus. Ada juga Mandau yang sengaja dibuat untuk hiasan dan dipajang di dinding.  Konon, Mandau yang asli dipercaya memiliki kekuatan Magic.

     Ilmu suku Dayak yang diyakini sebagai petunjuk leluhur ada di dalam Mandau tersebut.  Ketika dipakai untuk berperang, senjata ini dapat memberikan kekuatan Magic bagi si pemiliknya.  Bahkan, Mandau ini juga dipercaya dapat membuat sang pemiliknya menjadi kebal saat menghadapi musuh.  Meskipun ada dua jenis, bentuk Mandau tetaplah sama. 
Bentuk Mandau relatif sama dengan parang dan terbuat dari besi.  Sementara bagian hulu atau pegangannya terbuat dari kayu. Ada juga hulu yang terbuat dari tanduk kerbau ataupun tanduk rusa.  Biasanya, ukiran berbentuk burung Enggang, salah satu jenis burung di Kalimantan menjadi ciri khasnya.
Di bagian ujung hulu Mandau terkadang juga diberi bulu binatang atau rambut manusia.  Bagian yang tak pernah lepas dari Mandau adalah sarung pembungkus Mandau yang terbuat dari kayu yang dalam bahasa Dayak, namanya kumpang. Sama seperti bagian bilahnya, pada bagian kumpang juga terdapat berbagai motif ukiran khas Dayak.      Untuk membuat sebilah Mandau tidaklah mudah.  Mengingat ada jenis Mandau yang memiliki kekuatan magis, senjata ini secara khusus dibuat oleh pandai besi handal.  Pembuat Mandau khusus untuk ritual ataupun perang haruslah memiliki kekuatan gaib.  Konon, untuk memperoleh kekuatan itu, si pandai besi tersebut harus bertapa dan memohon petunjuk dari leluhur terlebih dahulu.
Untuk proses pembuatannya-pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.  Besi untuk Mandau harus terbuat dari baja agar bertahan lama.  Proses akhir pembuatan Mandau yakni membuat baja lebih keras. Jika salah dalam proses pencelupan, Mandau akan menjadi bengkok. Jika ini terjadi, hasil kerja membuat bilah Mandau selama sehari akan percuma.  Bilah Mandau juga harus diasah sedemikian rupa hingga tajam.  Terlebih lagi, ketika proses pengukiran. Waktu pembuatannya akan lebih lama, jika ukiran yang diinginkan semakin bermotif.

3. Telawang / Perisai
    Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
4. Dohong
    Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.
5. Lonjo / Tombak
     Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.



1 Komentar: